14 September 2026 • 5 menit baca
Menjelang 17 September: Peran Orang Tua Saat Sunat Anak dalam Budaya Keselamatan Pasien
Tiga hari menjelang Hari Keselamatan Pasien Sedunia, peran orang tua saat sunat anak layak dibaca lebih luas daripada menemani di ruang tunggu. Anak membutuhkan orang dewasa yang membawa pertanyaannya, menjaga privasinya, dan membantu memastikan informasi keluarga dipahami bersama.

Momentum aktual: keselamatan sebagai budaya bersama
WHO menetapkan 17 September 2026 sebagai World Patient Safety Day; edisi tahun ini mengangkat layanan aman untuk penyakit tidak menular dengan slogan “Safe care for life!”.[4] Dalam briefing WHO untuk kampanye keselamatan pasien anak pada 2025, organisasi tersebut juga memasukkan keterlibatan orang tua sebagai bagian dari kerangka layanan aman bagi anak.[1] Tema global ini tidak menjadikan setiap pengalaman layanan anak sama, tetapi mengingatkan bahwa keselamatan dibangun melalui kerja banyak pihak dan perhatian yang konsisten.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menyebut keselamatan pasien sebagai salah satu pilar penyelenggaraan JKN dan menekankan bahwa keberhasilan layanan bukan hanya soal lebih banyak tindakan, melainkan tindakan yang tepat untuk pasien yang tepat pada waktu yang tepat.[5] Dalam parenting sunat anak, keluarga dapat mengambil makna yang proporsional: komunikasi yang rapi dan pertanyaan yang tidak disisihkan adalah bagian dari tanggung jawab bersama, bukan pengganti penilaian profesional.
Yang dapat dibawa orang tua: suara anak dan pertanyaan keluarga
UNICEF menyarankan orang dewasa yang dekat dengan anak berbicara secara jujur dan tenang, menciptakan lingkungan aman agar anak dapat mengungkapkan pikiran serta bertanya, dan menyesuaikan percakapan dengan reaksi anak.[3] Ini selaras dengan persiapan anak sebelum sunat yang menghargai rasa ingin tahu dan rasa tidak nyaman tanpa menjanjikan hasil atau memaksa anak terlihat berani.
Ketika keluarga memasuki layanan, peran orang tua bukan mengambil alih semua suara anak. Peran itu dapat berarti menyampaikan kepada tim apa yang anak pahami, pertanyaan yang belum terjawab, dan kebutuhan komunikasi yang perlu diperhatikan. Informasi personal anak juga tidak perlu menjadi bahan candaan atau konten keluarga. Privasi adalah bagian dari martabat, termasuk saat sebuah momen mempunyai arti agama, budaya, atau adat bagi keluarga.

Informasi sesuai usia, bukan beban informasi
HealthyChildren, situs American Academy of Pediatrics, menulis bahwa anak yang memahami apa yang terjadi dapat memiliki pengalaman rumah sakit yang lebih positif; sumber itu juga menekankan kejujuran dan penggunaan kata yang sesuai usia serta kematangan anak.[6] Prinsip tersebut tidak sama dengan memberikan rincian klinis kepada anak atau orang tua dari artikel ini. Detail yang relevan harus dijelaskan oleh tim yang menangani, sesuai keadaan anak dan layanan yang sebenarnya.
Kemenkes mengingatkan bahwa komunikasi kesehatan di Indonesia juga berhadapan dengan konteks relasi keluarga yang beragam, termasuk cara anak berbicara kepada orang tua.[2] Karena itu, tidak ada satu skrip universal. Yang dapat dijaga lintas keluarga adalah kesempatan anak untuk didengar dengan hormat, serta kesediaan orang dewasa kembali pada tim layanan bila sebuah pertanyaan belum jelas.
Tiga audiens, satu standar penghormatan
- Untuk anak: kamu boleh bertanya dengan cara yang nyaman, mengatakan bahwa kamu belum paham, dan meminta orang dewasa mendengarkan. Ceritamu serta tubuhmu pantas dihormati.
- Untuk orang tua/pengasuh: hadirkan percakapan yang tidak mempermalukan, catat pertanyaan keluarga, dan sampaikan informasi yang relevan kepada tim yang menangani. Ikuti penjelasan serta rencana dari tenaga profesional untuk kebutuhan anakmu.
- Untuk praktisi: bangun komunikasi yang ramah anak, beri ruang bagi pertanyaan keluarga, jelaskan batas privasi dengan jelas, dan lakukan rujukan bila dibutuhkan sesuai kewenangan serta standar layanan.
Hikmah sebagai refleksi, bukan beban
Bagi sebagian keluarga, sunat dapat terhubung dengan iman, budaya, atau adat. Makna itu berbeda-beda dan tidak boleh diperlakukan sebagai satu kesimpulan universal. Hikmah yang paling aman untuk dibawa pulang adalah tanggung jawab: mendengar anak, menghormati batas pribadinya, dan tidak menjadikan keberanian sebagai tuntutan yang harus dipertontonkan. Di situ, informasi sunat anak dapat bergerak menjadi percakapan keluarga yang lebih matang.
Catatan editorial: FAMS News tidak memberikan layanan klinis dalam artikel ini dan tidak menyatakan ketersediaan layanan di kota tertentu. Untuk keputusan serta arahan individual, ikuti penjelasan tim yang menangani anak.
Sumber
- [1] WHO — Safe care for every newborn and every child
- [2] Kemenkes RI — Edukasi Kesehatan dari sekolah ke keluarga
- [3] UNICEF — How to talk to your child about an emergency situation
- [4] WHO — World Patient Safety Day 2026
- [5] Kemenkes RI — Keselamatan Pasien Adalah Fondasi Utama Perluasan Layanan Kesehatan JKN
- [6] HealthyChildren / American Academy of Pediatrics — General Anesthesia for Children: What Parents Need to Know
