15 September 2026 • 5 menit baca
Parenting Sunat Anak: Dengar Suara Anak dalam Keselamatan
Menjelang Hari Keselamatan Pasien Sedunia pada 17 September, parenting sunat anak dapat dimulai dari hal yang tidak teknis: anak tahu ia boleh bertanya, orang tua tidak perlu menutupi rasa cemas dengan janji kosong, dan praktisi menjelaskan batas serta pilihan komunikasi secara ramah anak.

News peg: keselamatan adalah urusan suara yang didengar
WHO menetapkan 17 September sebagai World Patient Safety Day; kampanye 2026 berfokus pada keamanan perawatan penyakit tidak menular dengan slogan “Safe care for life!”.[1] Tema tersebut bukan kampanye khusus sunat anak, tetapi menjadi pengingat yang relevan bahwa keselamatan dibangun lewat hubungan yang menghargai orang dan keluarganya, bukan hanya lewat istilah teknis.
Dalam kampanye keselamatan pasien anak sebelumnya, WHO memasukkan pelibatan anak, orang tua, dan keluarga sebagai salah satu tujuan perbaikan di titik layanan.[2] Bagi keluarga yang sedang membicarakan sunat anak, prinsip ini dapat diterjemahkan sebagai ruang untuk mengajukan pertanyaan, menyampaikan keberatan, dan memahami penjelasan dari tim yang menangani anak.
Untuk anak: rasa takut bukan kegagalan untuk “berani”
Anak tidak perlu dipaksa tampil berani atau diam agar percakapan orang dewasa terasa mudah. Ia dapat diberi bahasa yang sesuai usia untuk mengatakan bingung, malu, takut, atau ingin mengetahui apa yang akan dibicarakan; orang dewasa tetap bertanggung jawab atas keputusan dan keselamatan, sambil sungguh-sungguh mendengarkan respons anak.
American Academy of Pediatrics menulis bahwa anak yang memahami apa yang sedang terjadi dapat memiliki pengalaman rumah sakit yang lebih positif, serta menekankan kejujuran dan kata-kata yang dapat dipahami sesuai usia dan kematangan anak.[3] Ini bukan naskah klinis untuk semua keadaan; keluarga perlu meminta penjelasan yang tepat kepada tim yang menangani anak.
Untuk orang tua: peran orang tua saat sunat anak bukan sekadar menenangkan
Peran orang tua saat sunat anak dapat berbentuk komunikasi keluarga yang jujur: menjelaskan bahwa anak boleh bertanya, tidak menertawakan kekhawatiran, dan tidak menjanjikan hal yang belum dapat dipastikan. Pertanyaan yang baik tidak harus langsung dijawab sendiri; orang tua dapat membawa pertanyaan anak kepada profesional yang berwenang.
Informed consent adalah proses tanggung jawab antara keluarga dan tenaga yang menangani, bukan sekadar dokumen. Karena itu, orang tua perlu menyisakan ruang untuk memahami informasi, menyampaikan riwayat atau kekhawatiran sesuai arahan profesional, serta menghormati privasi anak ketika berbagi cerita dengan kerabat atau di ruang digital.

Untuk praktisi: komunikasi ramah anak adalah etika, bukan dekorasi
WHO menempatkan pelibatan anak dan keluarga di antara tujuan keselamatan pasien anak.[2] Dalam praktik, prinsip itu mengajak profesional dan penyelenggara untuk menjelaskan peran, batas dokumentasi, serta kanal pertanyaan dengan bahasa yang dapat dipahami—tanpa menganggap anak sebagai objek promosi atau sekadar penerima keputusan.
Privasi juga perlu dirancang sejak awal. Keluarga perlu tahu apakah dokumentasi diperlukan, untuk tujuan apa, siapa yang dapat mengaksesnya, dan bahwa pertanyaan anak tidak layak dipertontonkan. Bila pembicaraan menyentuh kondisi atau arahan individual, penjelasan harus datang dari tenaga berwenang dalam relasi layanan yang tepat.
Nilai keluarga tanpa memaksa satu narasi
Dalam sebagian keluarga, sunat dikaitkan dengan agama, budaya, adat, atau penanda tumbuh besar; bentuk makna dan cara membicarakannya berbeda antar keluarga serta komunitas. FAMS News tidak menyamakan satu tafsir, tradisi, atau pendekatan layanan sebagai aturan universal. Hikmah di sini adalah refleksi tentang tanggung jawab, hormat, dan kebersamaan—bukan janji medis atau ukuran keberanian anak.
Tiga komitmen yang bisa dibawa ke percakapan
- Anak: kamu boleh bertanya, mengatakan tidak nyaman, dan meminta orang dewasa menjelaskan dengan bahasa yang kamu pahami.
- Orang tua/pengasuh: dengarkan tanpa mempermalukan, catat pertanyaan, dan ikuti penjelasan tim yang menangani anak untuk keputusan individual.
- Praktisi/penyelenggara: sediakan komunikasi sesuai usia, lindungi privasi, jelaskan batas dokumentasi, dan pisahkan edukasi keluarga dari promosi.
Untuk konteks jejak digital dan penghormatan atas cerita anak, baca juga liputan FAMS News tentang privasi anak sebelum membagikan cerita sunat. Untuk ruang aman agar anak dapat bertanya, lihat artikel FAMS News tentang komunikasi keluarga.
Catatan editorial: informasi sunat anak di artikel ini tidak menggantikan konsultasi atau arahan individual dari tenaga kesehatan yang menangani anak. FAMS News tidak menyatakan ketersediaan layanan di kota tertentu dan artikel ini bukan promosi layanan FAMS-owned/afiliasi.
