20 September 2026 • 5 menit baca
Anak Tidak Harus “Berani”: Mengubah Bahasa Keluarga Saat Menjelang Sunat
Komunikasi orang tua dan anak menjelang sunat tidak perlu menjadikan keberanian sebagai ujian. Anak dapat didampingi untuk bertanya, menyatakan rasa tidak nyaman, dan memahami bahwa dukungan keluarga tidak sama dengan tekanan untuk terlihat baik-baik saja.
Mengapa kata “berani” perlu dibaca ulang
WHO mencatat bahwa anak, orang tua, dan keluarga berperan dalam keselamatan layanan; anak dapat mengalami takut, bingung, atau nyeri di lingkungan layanan kesehatan. WHO juga menekankan pentingnya melibatkan anak dengan cara yang sesuai usia dan perkembangan.[1]
Dalam persiapan sunat anak, pengamatan itu memberi konteks sederhana: kalimat seperti “jangan takut” atau “harus berani” mungkin dimaksudkan menyemangati, tetapi tidak selalu membuka ruang percakapan. Pendekatan yang lebih menghormati anak bukan berarti orang tua melepas tanggung jawab. Justru orang dewasa tetap memimpin dengan bahasa yang tidak menuntut anak menyembunyikan perasaannya.
Komunikasi orang tua dan anak: dengarkan sebelum membalas
Konvensi Hak Anak menyatakan bahwa anak yang mampu membentuk pandangannya berhak menyatakan pandangan secara bebas dalam hal yang memengaruhinya, dengan bobot yang disesuaikan pada usia dan kematangannya.[2] Prinsip ini tidak mengharuskan keluarga memperlakukan semua usia dengan cara yang sama, juga tidak memindahkan keputusan orang dewasa kepada anak. Prinsip ini meminta orang dewasa menyediakan kesempatan untuk mendengar.
Karena itu, pertanyaan anak tidak perlu segera dijawab dengan lelucon, perbandingan dengan saudara, atau janji yang tidak dapat dipastikan. Orang tua dapat mengakui pertanyaan tersebut, mencatat hal yang belum bisa dijawab, lalu membawa pertanyaan layanan kepada tim yang menangani anak. Ini menjaga percakapan keluarga tetap jujur tanpa mengubahnya menjadi nasihat medis dari internet.
Nilai keluarga boleh hadir, tekanan tidak perlu mengambil alih
Sunat dapat hadir dalam ragam cerita agama, budaya, dan adat keluarga. Tidak ada satu kesimpulan atau cara merayakan yang mewakili semua keluarga. Nilai dapat dibicarakan dengan hormat sambil tetap membedakan antara makna keluarga dan pengalaman personal anak.
Bagi keluarga besar, bentuk dukungan yang lebih berguna dapat berupa menanyakan kebutuhan orang tua, menghindari candaan tentang tubuh atau rasa takut, dan tidak mengubah anak menjadi pusat tontonan. Konvensi Hak Anak juga melindungi anak dari gangguan sewenang-wenang terhadap privasinya.[2] Maka foto, cerita, dan komentar tentang anak bukan otomatis bahan untuk grup keluarga atau media sosial.
Peran praktisi: perjelas siapa yang menjawab pertanyaan layanan
WHO mendorong informasi yang tepat waktu, mudah dipahami, dan peka budaya bagi anak serta orang tua, disertai keterlibatan mereka dalam perencanaan dan pengambilan keputusan yang sesuai.[1] Dalam praktiknya, keluarga dapat mengetahui kanal yang tepat untuk pertanyaan layanan, sementara percakapan di rumah tetap berfokus pada rasa aman, privasi, dan dukungan emosional.
Untuk konteks lain tentang batas berbagi cerita anak, baca liputan FAMS News tentang privasi anak dalam cerita keluarga. Pembaca juga dapat melihat artikel tentang peran keluarga besar saat persiapan sunat anak.
Catatan editorial: informasi sunat anak di artikel ini tidak menggantikan konsultasi atau arahan individual dari tenaga kesehatan yang menangani anak. FAMS News tidak menyatakan ketersediaan layanan di kota tertentu dan artikel ini bukan promosi layanan FAMS-owned/afiliasi.
