20 September 2026 • 5 menit baca
Sebelum Foto Dibagikan, Tanyakan: Apakah Cerita Ini Milik Anak?
Foto keluarga bisa terasa seperti kenangan bersama. Namun ketika ceritanya menyangkut tubuh dan momen rentan anak, satu jeda untuk bertanya dapat mengubah cara kita merayakan.

Kenangan keluarga tidak otomatis menjadi konsumsi publik
Konvensi Hak Anak mengakui hak anak atas privasi, termasuk perlindungan terhadap keluarga, rumah, komunikasi, dan reputasinya.[3] Prinsip ini relevan ketika keluarga mendokumentasikan persiapan sunat anak: momen yang hangat bagi orang dewasa tetap dapat terasa sangat personal bagi anak.
Karena itu, sebelum mengirim foto ke grup atau mengunggah cerita, keluarga dapat berhenti sejenak dan mempertimbangkan siapa yang akan melihatnya, apakah detailnya perlu dibagikan, serta bagaimana anak mungkin memaknai unggahan itu ketika lebih besar.
Privasi anak dimulai dari percakapan yang sesuai usia
UNICEF mengingatkan bahwa membagikan cerita atau foto anak tanpa melibatkan mereka dapat menjadi kesempatan yang terlewat untuk mengajarkan persetujuan dan menghormati privasi.[2] Anak tidak harus memikul keputusan orang dewasa, tetapi pendapatnya layak didengar sesuai usia dan kematangannya.
Dalam keluarga, percakapan itu bisa sederhana: jelaskan apa yang hendak dibagikan, kepada siapa, dan mengapa. Bila anak merasa malu atau tidak nyaman, reaksi tersebut tidak perlu dijadikan bahan candaan. Untuk anak yang masih kecil, orang dewasa tetap bertanggung jawab membuat batas perlindungan, bukan menyerahkan seluruh keputusan kepada anak.

Keluarga besar dapat membantu menjaga batas
Dalam momen keluarga, dukungan tidak harus berupa foto atau cerita yang tersebar luas. Keluarga besar dapat menyepakati bahwa dokumentasi yang menyentuh tubuh, rasa takut, atau situasi rentan anak tidak dibagikan tanpa pertimbangan yang jelas. Ini bukan larangan merayakan, melainkan cara menjaga agar anak tidak menjadi tontonan.
UNICEF Indonesia juga mengingatkan bahwa foto, video, dan pesan yang sudah dibagikan sulit dikendalikan; anak memiliki hak atas privasi, dan orang dewasa perlu berpikir sebelum menyebarkan cerita yang memalukan atau menyakitkan.[2] Batas seperti ini sebaiknya dibicarakan sebelum acara, bukan setelah unggahan beredar.
Perayaan yang tetap menyisakan ruang untuk anak
WHO Indonesia menyerukan layanan yang lebih berpusat pada anak dan keluarga serta mendorong orang tua menjadi mitra aktif yang terinformasi dalam keputusan yang menyangkut anak.[1] Dalam konteks editorial parenting, pesan itu dapat diterjemahkan sebagai ajakan untuk mendengar, menjelaskan dengan jujur, dan menjaga martabat anak—bukan sebagai petunjuk klinis.
Nilai agama, budaya, dan adat setiap keluarga berbeda. Semuanya dapat hadir sebagai makna dan kebersamaan, sambil tetap memberi batas pada cerita personal anak. Baca juga liputan FAMS News tentang bahasa keberanian saat menjelang sunat.
Catatan editorial: artikel ini bukan nasihat medis, hukum, atau panduan keamanan digital individual. FAMS News tidak menyatakan ketersediaan layanan di kota tertentu dan artikel ini bukan promosi layanan FAMS-owned/afiliasi.
