KELUARGA & KOMUNITAS

21 September 2026 • 5 menit baca

Saat Keluarga Berbeda Pendapat, Anak Tidak Perlu Menjadi Penengah

Dalam keluarga, perbedaan pandangan menjelang sunat bisa muncul dari orang tua, kakek-nenek, atau kerabat lain. Anak tidak perlu ditempatkan sebagai penengah, pembawa pesan, atau bukti bahwa satu pihak paling benar.

Ilustrasi editorial komunikasi orang tua dan anak saat keluarga berbeda pendapat menjelang sunat
Ilustrasi editorial orisinal FAMS News; bukan dokumentasi keluarga atau peristiwa nyata.
Ruang lingkup: artikel ini membahas komunikasi keluarga, dukungan emosional, dan privasi anak. Tidak ada petunjuk metode, obat, perawatan, penilaian kelayakan, atau arahan klinis individual.

Perbedaan orang dewasa tidak harus menjadi beban anak

Ketika orang dewasa memiliki pandangan berbeda, percakapan keputusan sebaiknya tetap menjadi tanggung jawab orang dewasa. Prinsip kepentingan terbaik anak mengingatkan bahwa keputusan yang berdampak pada anak perlu mempertimbangkan keselamatan, martabat, dan kebutuhan perkembangannya.[1]

Artinya bukan semua orang harus langsung sepakat. Yang perlu dihindari adalah meminta anak memilih kubu, mengulang pendapat satu orang kepada orang lain, atau menjadikan ekspresi takut dan berani sebagai alat memenangkan perdebatan.

Komunikasi orang tua dan anak dimulai dari mendengar

Anak dapat diberi ruang untuk menyampaikan pertanyaan dan perasaan dengan bahasa yang sesuai usianya. Mendengar bukan berarti menyerahkan seluruh keputusan kepada anak; orang dewasa tetap memegang tanggung jawab dan menjelaskan batas perannya dengan jujur.

Pedoman WHO tentang intervensi pengasuhan menempatkan hubungan orang tua-anak, komunikasi, dan pengasuhan yang responsif sebagai bagian penting dari dukungan keluarga.[2] Kemenkes juga menekankan interaksi penuh kasih sayang dan komunikasi dalam dukungan tumbuh kembang anak.[3]

Ilustrasi editorial kartu percakapan keluarga untuk mendengarkan pertanyaan anak dengan tenang
Ilustrasi editorial orisinal FAMS News tentang percakapan keluarga yang tidak mempermalukan anak.

Nilai agama dan adat dapat dibicarakan tanpa mempermalukan

Keyakinan agama, kebiasaan keluarga, dan adat dapat menjadi konteks yang bermakna. Namun, satu pengalaman keluarga tidak otomatis menjadi aturan untuk semua keluarga. Orang dewasa dapat menjelaskan nilai yang mereka pegang sambil memberi tahu anak bahwa pertanyaan tidak membuatnya kurang baik atau kurang berani.

Jika keluarga mengadakan acara, batas privasi tetap penting. Cerita tentang tubuh, rasa takut, atau pengalaman anak bukan bahan yang harus dibagikan kepada setiap tamu. UNICEF menempatkan privasi sebagai bagian dari hak anak dan mengingatkan orang tua untuk berhati-hati ketika membagikan informasi anak.[1][4]

Kalimat yang membantu dan yang sebaiknya dihindari

Kesepakatan sederhana sebelum melibatkan keluarga besar

Orang tua dapat menyepakati siapa yang menjadi pendamping utama, pertanyaan apa yang tidak perlu dijawab anak di depan umum, dan siapa yang boleh mengambil atau membagikan foto. Keluarga besar dapat membantu dengan mengurangi tekanan, bukan menambah penonton.

Baca juga liputan pagi tentang ritual, suara, dan privasi anak serta catatan tentang batas dokumentasi keluarga.

Catatan editorial: artikel ini bukan nasihat klinis dan tidak menggantikan arahan dari tenaga kesehatan yang menangani anak. FAMS News tidak menyatakan ketersediaan layanan di kota tertentu dan artikel ini bukan promosi layanan FAMS-owned/afiliasi.

Sumber

  1. [1] UNICEF — Convention on the Rights of the Child, children’s version
  2. [2] WHO — Guidelines on parenting interventions
  3. [3] Kementerian Kesehatan RI — Peran orang tua dalam tumbuh kembang anak
  4. [4] UNICEF — Online privacy