KELUARGA & KOMUNITAS

23 September 2026 • 5 menit baca

Dukungan Keluarga dalam Sunat Anak: Jangan Jadikan Acara sebagai Tekanan

Perayaan, doa, dan kehadiran keluarga dapat menjadi sumber dukungan. Namun, dukungan keluarga dalam sunat anak perlu tetap menjaga ruang pribadi, suara, dan martabat anak—bukan mengubah momen personal menjadi tontonan.

Ilustrasi editorial dukungan keluarga dan komunitas dalam persiapan sunat anak
Ilustrasi editorial orisinal FAMS News; bukan dokumentasi orang atau peristiwa nyata.
Ruang lingkup: artikel ini membahas parenting, komunikasi, privasi, agama, budaya, dan adat secara umum. Tidak memuat metode, obat, perawatan, penilaian kelayakan, atau arahan klinis individual.

Kehadiran keluarga harus memperkuat rasa aman

Standar mutu layanan anak menempatkan komunikasi, penghormatan, dan keterlibatan anak serta keluarga sebagai bagian penting dari pengalaman yang bermutu.[1] Dalam keluarga, prinsip itu dapat diterjemahkan menjadi percakapan yang jujur, bahasa yang sesuai usia, dan kesediaan mendengar tanpa memaksa anak tampil berani.

Peran orang dewasa tetap penting: menjelaskan konteks, menjaga batas, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Anak tidak perlu memikul seluruh keputusan agar pendapatnya dihormati. Baca juga suara anak dalam persiapan sunat.

Tradisi boleh hadir, tetapi tidak menghapus privasi

Di sejumlah komunitas, sunat dapat ditempatkan dalam kegiatan keagamaan atau sosial. Kementerian Agama, misalnya, pernah memberitakan khitan massal sebagai kegiatan yang memadukan layanan sosial dan pesan keagamaan.[2] Berita tentang satu kegiatan tidak berarti semua keluarga harus merayakannya dengan bentuk yang sama.

Karena itu, keluarga dapat membedakan antara nilai yang ingin diwariskan, kebiasaan budaya, dan tekanan sosial. Foto, video, candaan, atau pengumuman kepada banyak orang sebaiknya tidak diperlakukan sebagai kewajiban. Anak tetap memiliki kepentingan atas privasi dan perlindungan dari rasa malu; prinsip hak anak menempatkan martabat dan kepentingan terbaik anak sebagai pertimbangan utama.[3]

Ilustrasi editorial pembagian dukungan keluarga untuk anak dalam persiapan sunat
Ilustrasi editorial orisinal FAMS News tentang dukungan tanpa tekanan; bukan dokumentasi keluarga atau peristiwa nyata.

Tiga pertanyaan sebelum mengundang banyak orang

Pertama, apakah kehadiran orang lain membuat anak lebih tenang atau justru lebih tertekan? Kedua, apakah anak tahu siapa yang akan hadir dan apa yang akan dibicarakan? Ketiga, apakah keluarga siap menghentikan candaan atau dokumentasi ketika anak menunjukkan ketidaknyamanan?

Pertanyaan ini bukan penilaian terhadap satu agama, adat, atau bentuk perayaan. Ia adalah cara praktis untuk memastikan bahwa nilai keluarga berjalan bersama penghormatan pada anak. Untuk konteks agama, keluarga sebaiknya merujuk pada tokoh atau lembaga keagamaan yang dipercaya; untuk aspek kesehatan, ikuti penjelasan tim yang menangani anak.

Komunitas yang baik tidak memaksa keseragaman

Pengalaman keluarga dapat berbeda menurut agama, budaya, adat, usia anak, dan lingkungan sosial. Karena itu, percakapan publik tentang informasi sunat anak perlu menghindari klaim bahwa satu bentuk perayaan atau satu respons emosional berlaku universal.

Ukuran dukungan bukan seberapa ramai acaranya, melainkan apakah anak merasa didengar, tidak dipermalukan, dan didampingi oleh orang dewasa yang bertanggung jawab. Itulah titik temu parenting, kesehatan publik, dan kehidupan komunitas.

## Sources [1] WHO — Standards for improving the quality of care for children: https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/272346/9789241565554-eng.pdf [2] Kementerian Agama — Peringati Tahun Baru 1446 H, Kemenag Gelar Khitan Massal untuk 100 Anak: https://kemenag.go.id/nasional/peringati-tahun-baru-1446-h-kemenag-gelar-khitan-massal-untuk-100-anak-c9idg [3] UNICEF — Convention on the Rights of the Child: https://www.unicef.org/reports/convention-rights-child-children-version