24 September 2026 • 5 menit baca
Tradisi Sunat Anak Perlu Ruang Tanya, Bukan Tekanan
Di banyak keluarga, sunat dibicarakan sebagai bagian dari nilai agama, budaya, atau perjalanan keluarga. Nilai itu tetap dapat dijaga tanpa membuat anak merasa harus diam, malu, atau mengikuti satu cara pandang yang dianggap berlaku untuk semua.
Makna keluarga tidak harus menjadi beban anak
Organisasi kesehatan anak menempatkan penghormatan pada suara, martabat, dan kebutuhan komunikasi anak sebagai bagian penting dari pengalaman layanan yang bermutu.[1] Prinsip itu relevan dalam percakapan keluarga: anak boleh mendapat penjelasan yang sesuai usia dan kesempatan menyampaikan pertanyaan, tanpa dipaksa menjadi simbol keberanian keluarga.
UNICEF juga mengingatkan bahwa informasi tentang anak, termasuk cerita dan gambar yang dibagikan keluarga, perlu diperlakukan dengan perhatian terhadap privasi dan kepentingan terbaik anak.[2] Karena itu, dokumentasi acara dan candaan keluarga sebaiknya tidak mengubah pengalaman pribadi menjadi konsumsi publik.
Bedakan lensa agama, budaya, dan adat
Makna keagamaan tidak selalu dijelaskan dengan cara yang sama oleh semua keluarga atau otoritas. Jika keluarga membutuhkan penjelasan normatif, rujuklah kepada lembaga keagamaan atau ahli yang memang berwenang, lalu jelaskan kepada anak dengan bahasa yang tidak menakut-nakuti. FAMS News tidak menetapkan satu pendapat agama sebagai kesimpulan universal.
Hal serupa berlaku untuk budaya dan adat. Sebuah kegiatan khitan massal yang diberitakan Kementerian Agama menunjukkan bahwa sunat dapat hadir dalam ruang sosial dan komunitas, tetapi satu contoh kegiatan tidak membuktikan bahwa semua keluarga memiliki tradisi, waktu, atau bentuk perayaan yang sama.[3] Liputan tentang adat perlu menyebut siapa yang menjalankan, di mana konteksnya, dan apa batas klaimnya.
Tiga pertanyaan yang bisa membuka percakapan
- “Apa yang ingin kamu ketahui tentang acara ini?”
- “Bagian mana yang membuatmu nyaman atau tidak nyaman untuk dibicarakan?”
- “Siapa orang dewasa yang ingin kamu ajak bicara jika ada pertanyaan?”
Pertanyaan semacam ini bukan pengganti keputusan orang tua maupun penjelasan dari tenaga kesehatan. Fungsinya adalah menjaga komunikasi keluarga tetap jujur, sesuai usia, dan tidak mempermalukan anak. Untuk pertanyaan klinis atau keputusan individual, keluarga perlu mengikuti penjelasan tim yang menangani anak.
Tradisi yang bergerak menjadi dukungan
Tradisi dapat menjadi ruang kebersamaan ketika keluarga bersedia menyesuaikan cara bercerita, menghormati privasi, dan menerima bahwa pengalaman anak tidak harus dipertontonkan. Dengan begitu, informasi sunat anak tidak berhenti sebagai acara, melainkan menjadi percakapan yang menumbuhkan rasa aman dan saling menghormati.
