28 September 2026 • 5 menit baca
Tradisi Sunat Anak Perlu Menyisakan Ruang Pilihan
Bagi sebagian keluarga, sunat anak hadir bersama nilai agama, budaya, adat, dan perayaan. Nilai itu dapat diwariskan tanpa membuat anak menjadi tontonan atau memikul semua harapan orang dewasa.
Nilai keluarga bukan satu bentuk acara
Sunat anak dapat ditempatkan dalam beragam cerita keluarga. Ada yang menekankan ibadah, ada yang menghubungkannya dengan peralihan usia, ada pula yang memilih suasana sederhana. FAMS News tidak menganggap satu bentuk perayaan, pakaian, ucapan, atau kebiasaan sebagai kewajiban universal.
Perbedaan itu penting disebutkan agar keluarga tidak mengukur kasih sayang dari kemeriahan acara. Tradisi dapat menjadi cara mengingat nilai, tetapi maknanya tetap perlu diterjemahkan dengan bahasa yang dapat dipahami anak.
Anak perlu didengar tanpa dijadikan penentu tunggal
Versi anak Konvensi Hak Anak dari UNICEF memuat hak anak untuk menyampaikan pandangan dalam hal yang memengaruhi mereka serta hak atas privasi.[1] Dalam konteks sunat dan perayaan keluarga, prinsip itu berarti orang dewasa dapat menjelaskan rencana, mendengar perasaan anak, dan menjaga batas cerita pribadi—tanpa membebankan seluruh keputusan keluarga kepada anak.
Pertanyaan sederhana dapat membuka percakapan: bagian mana yang ingin anak pahami, siapa yang membuatnya merasa aman, dan apakah ada hal yang tidak ingin ditampilkan di depan orang lain. Jawaban anak tidak perlu dipaksa menjadi pertunjukan keberanian.
Bedakan agama, budaya, adat, dan tekanan sosial
Agama, budaya, dan adat adalah lensa yang berbeda. Keluarga perlu menyebut sumber nilai secara jujur dan tidak mengubah kebiasaan satu lingkungan menjadi aturan bagi semua anak. Sebaliknya, tekanan sosial biasanya muncul ketika keluarga merasa harus mengikuti standar orang lain agar dianggap berhasil merayakan.
Ruang pilihan tidak berarti menolak tradisi. Ruang pilihan berarti memberi tempat bagi pertanyaan, menolak ejekan, membatasi dokumentasi, dan memilih bentuk perayaan yang sesuai dengan kondisi keluarga serta kenyamanan anak.
Relasi pengasuh menjadi dasar pengalaman yang aman
Pedoman WHO tentang perkembangan anak usia dini menekankan pentingnya pengasuhan responsif dan hubungan pengasuh-anak dalam mendukung perkembangan.[2] Artikel ini tidak menerjemahkan pedoman tersebut menjadi arahan kesehatan; relevansinya adalah pengingat bahwa anak membutuhkan orang dewasa yang hadir, mendengar, dan merespons dengan hormat.
- Untuk anak: kamu boleh bertanya, merasa gugup, dan menyampaikan batas privasi.
- Untuk orang tua/pengasuh: jelaskan nilai keluarga dengan bahasa sesuai usia dan jangan mempermalukan anak.
- Untuk kerabat dan komunitas: dukung keluarga tanpa meminta foto, detail, atau cerita pribadi sebagai bukti perayaan.
Tradisi yang baik tidak hanya terlihat dari ramainya acara. Ia juga terlihat dari cara keluarga menjaga martabat anak, memberi ruang bicara, dan membedakan nilai bersama dari tekanan untuk tampil.
Artikel ini adalah liputan edukasi publik non-klinis. Untuk pertanyaan kesehatan, keputusan individual, dan arahan dari fasilitas atau tenaga kesehatan, keluarga perlu mengikuti penjelasan tim yang bertanggung jawab.
