KELUARGA & KOMUNITAS

27 September 2026 • 5 menit baca

Perayaan Sunat Anak Perlu Menyisakan Ruang untuk Anak

Perayaan sunat anak sering mempertemukan nilai keluarga, keyakinan, tradisi, dan kegembiraan komunitas. Namun acara yang ramai tetap perlu menyisakan ruang bagi anak untuk memahami apa yang sedang dirayakan, menyampaikan rasa tidak nyaman, dan menjaga bagian pengalaman yang ingin tetap pribadi.[1][3]

Ilustrasi editorial keluarga menyiapkan perayaan sunat anak dengan ruang bicara dan pilihan yang dihormati
Ilustrasi editorial FAMS News; bukan dokumentasi orang atau peristiwa nyata.
Ruang lingkup: artikel ini membahas parenting, komunikasi, psikologi pengasuhan, serta lensa agama, budaya, dan adat secara umum. Tidak memuat metode, obat, perawatan, diagnosis, atau arahan klinis individual.

Nilai keluarga tidak harus berarti satu bentuk acara

Dalam satu keluarga, sunat bisa dipahami sebagai bagian dari nilai agama, penanda pertumbuhan, tradisi, atau pertemuan keluarga. Makna tersebut dapat dijelaskan sesuai usia anak tanpa menyatakan bahwa satu bentuk ritual, pakaian, hiburan, atau pesta berlaku untuk semua keluarga. Perbedaan praktik bukan alasan untuk menilai keluarga lain.

Yang penting, orang dewasa membedakan antara nilai yang hendak diwariskan dan bentuk acara yang masih dapat dibicarakan. Anak mungkin tidak menentukan seluruh keputusan, tetapi tetap dapat diberi penjelasan yang jujur dan kesempatan menyampaikan pendapat tentang hal-hal yang langsung menyentuh dirinya.[1][3]

Ruang memilih membantu acara tetap ramah anak

UNICEF menyebut anak memiliki hak atas privasi serta hak untuk menyampaikan pandangan dalam hal yang memengaruhinya.[1] Dalam konteks perayaan, prinsip ini dapat diterjemahkan secara sederhana: keluarga membicarakan siapa yang hadir, bagian mana yang ingin diikuti anak, dan kapan anak membutuhkan jeda—tanpa menjadikan setiap pilihan sebagai ukuran keberanian.

WHO menggunakan istilah pengasuhan responsif untuk kemampuan pengasuh memperhatikan, memahami, dan merespons sinyal anak secara tepat waktu dan sesuai kebutuhan.[2] Kerangka ini berasal dari pedoman perkembangan anak usia dini, bukan panduan acara sunat. Namun sebagai lensa komunikasi, ia membantu keluarga memperhatikan apakah anak tampak nyaman, bingung, malu, atau membutuhkan percakapan yang lebih tenang.

Ilustrasi editorial anak dan orang tua berbicara tentang batas pribadi dalam perayaan keluarga
Visual pendukung: perayaan dapat meriah tanpa menghapus batas pribadi anak.

Agama, budaya, dan adat perlu diberi label sebagai konteks

Penjelasan agama sebaiknya merujuk pada otoritas atau tradisi yang memang diikuti keluarga, bukan dipresentasikan sebagai satu-satunya tafsir. Begitu pula budaya dan adat perlu disebut sebagai konteks komunitas tertentu. FAMS News tidak menganggap satu model perayaan, satu nasihat tokoh, atau satu kebiasaan daerah sebagai aturan universal.

Permen PPPA Nomor 3 Tahun 2025 mengatur penyelenggaraan partisipasi anak melalui Forum Anak dan menegaskan pentingnya partisipasi yang sesuai usia, kematangan, serta perlindungan dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah.[3] Peraturan itu bukan panduan teknis perayaan sunat, tetapi memberi konteks kebijakan bahwa suara anak perlu didengar secara bermakna dan aman.

Tiga pertanyaan sebelum undangan dibagikan

Perayaan sunat anak dapat menjadi momen kebersamaan tanpa mengubah anak menjadi simbol acara. Nilai agama, budaya, dan adat tetap dapat hadir; yang perlu dijaga adalah agar anak memperoleh informasi yang sesuai usia, ruang untuk bertanya, dan batas yang dihormati.

Artikel ini adalah liputan edukasi publik non-klinis. Untuk pertanyaan kesehatan, keputusan individual, dan arahan dari fasilitas atau tenaga kesehatan, keluarga perlu mengikuti penjelasan tim yang bertanggung jawab.

Sources

  1. UNICEF — Children’s version of the Convention on the Rights of the Child
  2. WHO — Improving early childhood development: WHO guideline
  3. Kementerian PPPA — Peraturan Menteri Nomor 3 Tahun 2025