KELUARGA & KOMUNITAS

26 September 2026 • 5 menit baca

Percakapan Sunat Anak Tidak Berhenti pada Hari Acara

Bagi keluarga, sunat anak bukan hanya satu tanggal yang dikelilingi persiapan. Percakapan dapat terus berlanjut setelahnya: tentang pengalaman anak, privasi, nilai keluarga, dan cara orang dewasa mendengar tanpa mempermalukan atau membesar-besarkan cerita.[1][2]

Ilustrasi editorial keluarga mendampingi percakapan anak tentang sunat dan dukungan keluarga
Ilustrasi editorial orisinal FAMS News; bukan dokumentasi orang atau peristiwa nyata.
Ruang lingkup: artikel ini membahas komunikasi keluarga, psikologi pengasuhan, serta konteks agama, budaya, dan adat secara umum. Tidak memuat metode, obat, perawatan, diagnosis, atau arahan klinis individual.

Setelah acara, anak tetap memiliki cerita

WHO menempatkan hubungan orang tua–anak dan pengasuhan yang responsif sebagai bagian penting dari intervensi pengasuhan berbasis bukti.[1] Dalam bahasa keluarga, itu berarti perhatian tidak selesai ketika rangkaian acara selesai. Anak mungkin ingin bercerita, diam, bertanya ulang, atau mengubah cara ia memaknai pengalaman tersebut.

UNICEF menjelaskan bahwa pengasuhan responsif berkaitan dengan kemampuan orang dewasa memperhatikan sinyal anak, memahaminya, lalu merespons secara tepat.[2] Prinsip ini tidak memberi satu skrip untuk semua keluarga. Ia justru mengingatkan bahwa usia, cara berkomunikasi, temperamen, dan konteks setiap anak berbeda.

Ilustrasi editorial percakapan keluarga yang menjaga privasi dan rasa aman anak setelah sunat
Ruang aman dibangun lewat perhatian, bahasa yang sesuai usia, dan kesediaan mendengar; ilustrasi editorial FAMS News.

Tiga lapisan yang perlu dibedakan

Kesehatan publik: keluarga dapat membicarakan pentingnya informasi yang dapat dipercaya dan mengarahkan pertanyaan medis kepada tim yang bertanggung jawab. Artikel ini tidak menggantikan penjelasan atau rencana dari tenaga kesehatan yang menangani anak.

Psikologi dan parenting: percakapan yang tenang, bahasa yang dapat dipahami, serta respons yang tidak menghakimi membantu anak merasa bahwa pertanyaan dan perasaannya boleh dibicarakan. UNICEF juga menekankan mendengarkan aktif dan penggunaan bahasa yang sesuai usia dalam komunikasi dengan anak.[2]

Agama, budaya, dan adat: alasan keluarga menjalankan sunat dapat berbeda menurut keyakinan, komunitas, dan kebiasaan setempat. Perbedaan itu perlu dijelaskan sebagai konteks tertentu, bukan sebagai satu aturan universal. Nilai agama dan adat dapat menjadi ruang refleksi keluarga, sementara privasi dan martabat anak tetap dijaga.

Menjaga percakapan tetap aman

Keluarga dapat menyepakati bahwa cerita pribadi anak tidak otomatis menjadi bahan candaan, unggahan, atau pembicaraan di depan banyak orang. Jika keluarga besar hadir, orang dewasa dapat membatasi komentar yang mempermalukan dan memberi anak pilihan untuk berbicara kepada orang yang ia percaya.

Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 3 Tahun 2025 menempatkan penyelenggaraan partisipasi anak melalui Forum Anak sebagai bagian dari kerangka kebijakan partisipasi anak di Indonesia.[3] Artikel ini tidak menyamakan forum kebijakan dengan percakapan rumah tangga, tetapi arahnya relevan: suara anak perlu diperlakukan sebagai sesuatu yang layak didengar, bukan sekadar hiasan dalam keputusan orang dewasa.

Untuk anak, orang tua, dan praktisi

Bagi anak, pesan utamanya sederhana: kamu boleh bertanya dan menyampaikan perasaan. Bagi orang tua, tugasnya bukan meminta anak menanggung semua keputusan, melainkan membuka percakapan yang jujur dan aman. Bagi praktisi, komunikasi yang ramah anak dan penghormatan pada privasi menjadi bagian dari expectation-setting yang perlu dibahas sesuai kewenangan dan SOP fasilitas masing-masing.

Pada akhirnya, percakapan tentang sunat anak tidak perlu dipaksa menjadi satu kesimpulan. Ia dapat menjadi proses keluarga untuk belajar mendengar, membedakan fakta dari nilai, dan memastikan bahwa dukungan tidak berubah menjadi tekanan.

## Sources [1] https://www.who.int/publications/i/item/9789240065505 — WHO guidelines on parenting interventions [2] https://www.unicef.org/documents/care-child-development — Care for Child Development | UNICEF [3] https://jdih.kemenpppa.go.id/dokumen-hukum/produk-hukum/peraturan-menteri-nomor-3-tahun-2025 — Peraturan Menteri PPPA Nomor 3 Tahun 2025